Peran Mahasiswa dalam Membangun Bangsa yang Adil, Demokratis, dan Religius


Kaum pemuda merupakan tulang pungung penggerak bangsa. Karena itu kaum pemuda khususnya Mahasiswa merupakan aktor-aktor penting dalam mewujudkan cita-cita pencerahan kehidupan bangsa dimasa depan. Mahasiswa yang diidentikkan dengan “Agent of Change”, sehingga kata-kata perubahan selalu menempel dengan erat sebagai identitas para mahasiwa yang juga dikenal sebagai kaum intelektual muda. Seorang mahasiswa dalam menghadapi suatu permasalahan hendaklah melakukan analisa terhadap suatu permasalahan itu, mencari bahan pendukung untuk lebih memahami permasalahan tersebut. Kemudian mencari solusi dengan pertimbangan yang matang, dan pada akhirnya mampu mempertanggungjawabkan solusi tersebut.
Peran sentral perjuangannya sebagai kaum intelektual muda memberi secercah harapan untuk memperbaiki dan memberikan perubahan-perubahan positif. Gerakan perjuangan mahasiswa sebagai kontrol pemerintahan dan kontrol sosial terus tumbuh dan berkembang sehingga terjadilah sebuah peristiwa yang tejadi pada 13 tahun yang lalu yaitu tragedi trisakti Mei 1998.
Namun perjuangan bangsa ini tidaklah sampai disitu saja, masih banyak permasalahan-permasalahan yang perlu diselesaikan sehingga mampu mewujudkan cita-cita bangsa yaitu menjadi bangsa Indonesia  yang makmur, adil dan sejahtera.
Maka menjadi tanggungjawab mahasiswa khususnya mahasiswa PTAI untuk tetap eksis dalam gerakan ekstra parlementer. Selama belum tercapainya cita-cita bangsa. Oleh karena itu, Perguruan Tinggi Agama Islam yang berlandaskan aspek nilai-nilai luhur keislaman disudutkan untuk mampu menjawab segala tantangan perkembangan sosial dan zaman yang terus bergulir dengan cara mengaplikasikan nilai-nilai keislaman. Sebagai solusi untuk menjembatani permasalahan nasional, politik, moralitas dan sumberdaya manusia untuk mendorong kemajuan perekonomian nasional, dengan tujuan terciptanya  Negara Indonesia yang adil, demokratis, dan religius.
Pemikiran kritis, demokratis, dan konstruktif selalu lahir dari pola pikir para mahasiswa. Suara-suara mahasiswa kerap kali merepresentasikan dan mengangkat realita sosial yang terjadi di masyarakat. Sikap idealisme mendorong mahasiswa untuk memperjuangkan sebuah aspirasi pada penguasa, dengan cara mereka sendiri.
Mahasiswa dituntut untuk berperan lebih, tidak hanya bertanggung jawab sebagai kaum akademis, tetapi diluar itu wajib memikirkan dan mengembangkan tujuan bangsa. Dalam hal ini keterpaduan nilai-nilai moralitas dan intelektualitas sangat diperlukan demi berjalannya peran mahasiswa dalam dunia kampusnya untuk dapat menciptakan sebuah kondisi kehidupan kampus yang harmonis dengan kehidupan diluar kampus.
Sekarang mari kita tengok aktivitas mahasiswa zaman sekarang, Amien Rais pernah mengutarakan intensitas dan kualitas dari gerakan kemahasiswaan cenderung mengalami penurunan seiring datangnya era globalisasi ke negeri kita tercinta ini, kebanyakan dari mahasiswa lebih banyak menghabiskan waktunya dengan kegiatan yang kurang jelas manfaatnya, forum-forum diskusi mengenai hal-hal yang berhubungan dengan kenegaraan tidak pernah dijejali oleh mahasiswa sebaliknya tempat-tempat hiburan malah disesaki para mahasiswa. Gerakan kemahasiswaan masa sekarang yang cenderung menurun, maka sadar ataupun tidak itu merupakan efek dari masuknya era globalisasi ke-indonesia tanpa diharmonisasi dengan manajemen waktu dan diri yang baik. Untuk membangun citra mahasiswa sebagai agen pembaharu ataupun kaum intelektual yang mana dipundaknya ada masa depan bangsa ini, maka kita harus memupuk rasa persaudaraan dan senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita. Selain itu tentunya kita perlu membangun konsep intelektual dalam gerakan yang sinergi dan terarah menuju masyarakat yang adil, demokratis, dan religius. Sehingga kedepan mahasiswa tidak hanya dikenal lewat aktifitasnya ketika menjalani perkuliahan saja,tetapi sebagai elemen bangsa yang peka terhadap kondisi permasalahan disekitarnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar